“Anak saya terpaksa harus saya tinggal kerja dan tinggal sendiri
di kamar sejak tiga tahun ini ibunya sudah pergi kerumah orang tuanya,” kata Macelinus Herman, orang tua Maria Veronica, Gadis 10 tahun di sebuah rumah
kontrakan sederhana di Banjar Pekandelan, Semarapura, Klungkung, Selasa (1/9/2015).
Bahkan, di hari Cerebral Palsy, 1 September ini, Maria juga
tetap ditinggal sendiri.
Menurut penuturannya, pagi-pagi sebelum berangkat kerja, dia
harus bangun pukul. 04.00 pagi, untuk memasak bubur un
Dan jam delapan pagi anaknya harus ditinggal pergi bekerja
sebagai sales rokok keliling di Klungkung. “Saya lap dulu ganti pakaiannya,
lalu hidupkan televisi sebagai temannya saat dirumah sendiri,” ujarnya.
Dan pada siang hari dia harus kembali pulang usai mengirim
rokok dilanganannya, untuk memberikan makan.
Bahkan ketika sakitpun anaknya terpaksa ditinggalnya, karena
harus bekerja namun sesekali dia harus pulang untuk menjenguknya. Utamanya,
pada saat cuaca dingin seperti sekarang ini anaknya kerap mengalami sakit dan
hanya diberikan obat yang dibeli dari warung. Dia juga mengaku sudah mendapat
kelonggaran dari pimpinannya tempat dia bekerja.
Macelinus Herman mengaku sejak tiga tahun belakangan ini
kondisi anaknya terus menurun. Dimana, sebelumnya sempat bisa duduk namun kini
tidak lagi karena kurang perawatan. “Dulu istri saya yang merawat dengan
telaten, hingga ada yang memberikan kursi roda bahkan bisa duduk tegak di kursi
roda, kini tidak lagi,” katanya.
Kata dia, Istrinya sudah pergi tiga tahun lalu kerumah orang
tuanya di Denpasar, karena ada sedikit masalah keluarga dan juga karena kondisi
ekonomi. istrinya juga mengajak anak keduanya yang saat ini sudah duduk di
bangku sekolah TK. “Saya masih berharap kami bisa kumpul kembali, karena tidak
pernah ada perceraian, ini demi anak-anak apalagi Si Maria kondisinya sakit dan
setiap lihat foto ibunya di tembok selalu tersenyum dan kadang juga menangis,”
harapnya.
Sementara Dokter Nisa Setiati, seorang dokter umum dari
Padang Bai, Karangasem juga kerap mendatangi kediaman Maria. Bahkan kadang
tidak ada ayaknya karena sedang bekerja. “kasian anak ini, mudah-mudahan nanti
ada uluran tangan dari masyarakat, orang tuanya juga tidak pernah mengeluh dengan
kondisi anaknya ini,” katanya.
Tidak saja mengecek kesehatannya, Dokter Nisa juga membantu
memotong kuku anak ini karena sudah panjang.
Menurutnya, penyakit cerebral palsy adalah penyakit yang
meyerang otak besar, sehingga menimbulkan kelumpuhan pada tangan dan kaki pada
pasien. Hingga kini tidak tahu penyebabnya, tapi pengobatan bisa dengan cara
fisioterapy dan pemberian obat untuk menguatkan ototnya, namun tidak bisa
sembuh total. Anak-anak seperti ini biasanya punya waktu hidup yang lebih lama,
karena walaupun mereka tidak bisa
bergerak karena kelumpuhan ini, mereka bisa merasakan semua, selain dari
motorik otot itu semua normal.
3:22 PM
BALI NEWS

