suksma sampun ngerauhin

Tuesday, September 1, 2015

Kisah Miris Gadis 10 tahun Penderita Cerebral Palsy

“Anak saya terpaksa harus saya tinggal kerja dan tinggal sendiri di kamar sejak tiga tahun ini ibunya sudah pergi kerumah orang tuanya,” kata  Macelinus Herman, orang tua  Maria Veronica, Gadis 10 tahun di sebuah rumah kontrakan sederhana di Banjar Pekandelan, Semarapura, Klungkung, Selasa (1/9/2015).
Bahkan, di hari Cerebral Palsy, 1 September ini, Maria juga tetap ditinggal sendiri.
Menurut penuturannya, pagi-pagi sebelum berangkat kerja, dia harus bangun pukul. 04.00 pagi, untuk memasak bubur un

tuk anaknya, lanjut diberikan makan selama kurang lebih satu jam lamanya. Untuk lauknya terkadang jika ada uang untuk beli daging buburnya diisi daging dan jika tidak, terpaksa hanya diisi garam saja ditambah air hangat sebagai pendorongnya.
Dan jam delapan pagi anaknya harus ditinggal pergi bekerja sebagai sales rokok keliling di Klungkung. “Saya lap dulu ganti pakaiannya, lalu hidupkan televisi sebagai temannya saat dirumah sendiri,” ujarnya.
Dan pada siang hari dia harus kembali pulang usai mengirim rokok dilanganannya, untuk memberikan makan.
Bahkan ketika sakitpun anaknya terpaksa ditinggalnya, karena harus bekerja namun sesekali dia harus pulang untuk menjenguknya. Utamanya, pada saat cuaca dingin seperti sekarang ini anaknya kerap mengalami sakit dan hanya diberikan obat yang dibeli dari warung. Dia juga mengaku sudah mendapat kelonggaran dari pimpinannya tempat dia bekerja.
Macelinus Herman mengaku sejak tiga tahun belakangan ini kondisi anaknya terus menurun. Dimana, sebelumnya sempat bisa duduk namun kini tidak lagi karena kurang perawatan. “Dulu istri saya yang merawat dengan telaten, hingga ada yang memberikan kursi roda bahkan bisa duduk tegak di kursi roda, kini tidak lagi,” katanya.
Kata dia, Istrinya sudah pergi tiga tahun lalu kerumah orang tuanya di Denpasar, karena ada sedikit masalah keluarga dan juga karena kondisi ekonomi. istrinya juga mengajak anak keduanya yang saat ini sudah duduk di bangku sekolah TK. “Saya masih berharap kami bisa kumpul kembali, karena tidak pernah ada perceraian, ini demi anak-anak apalagi Si Maria kondisinya sakit dan setiap lihat foto ibunya di tembok selalu tersenyum dan kadang juga menangis,” harapnya.  
Sementara Dokter Nisa Setiati, seorang dokter umum dari Padang Bai, Karangasem juga kerap mendatangi kediaman Maria. Bahkan kadang tidak ada ayaknya karena sedang bekerja. “kasian anak ini, mudah-mudahan nanti ada uluran tangan dari masyarakat, orang tuanya juga tidak pernah mengeluh dengan kondisi anaknya ini,” katanya.
Tidak saja mengecek kesehatannya, Dokter Nisa juga membantu memotong kuku anak ini karena sudah panjang.

Menurutnya, penyakit cerebral palsy adalah penyakit yang meyerang otak besar, sehingga menimbulkan kelumpuhan pada tangan dan kaki pada pasien. Hingga kini tidak tahu penyebabnya, tapi pengobatan bisa dengan cara fisioterapy dan pemberian obat untuk menguatkan ototnya, namun tidak bisa sembuh total. Anak-anak seperti ini biasanya punya waktu hidup yang lebih lama,  karena walaupun mereka tidak bisa bergerak karena kelumpuhan ini, mereka bisa merasakan semua, selain dari motorik otot itu semua normal. 

0 coment:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons